Video

Loading...

Rabu, 02 Mei 2012

Biografi Tokoh


Negarawan yang Relijius

Karir politik pengusaha sukses ini justru berkibar dalam era reformasi. Dia seorang tokoh yang dinilai  ‘bersih’  dan dapat diterima semua golongan. Dialah tokoh utama perdamaian Malino. Tokoh yang berpenampilan bersahaja dan berjiwa kebangsaan ini seorang negarawan yang meletakkan kepentingan negara dan bangsanya di atas kepentingan lainnya.

Anak bangsa kelahiran Watampone, Bone, 15 Mei 1942 yang dibesarkan dalam keluarga nahdiyin dan menikah dengan puteri yang dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah, ini seorang kader Golkar yang selama menjabat Menko Kesra melaksanakan tugas dengan baik. Pada masa pemerintahan Gus Dur, ia dipercaya memimpin Departemen Prindustrian dan Perdagangan. Kendati hanya enam bulan. Ia dipecat dengan alasan yang tidak jelas. Dalam buku berjudul “Enam Bulan Jadi Menteri” ia kemudian menguraikan pengalamannya. Buku ini menurut pengantar penyusunnya, S. Sinansari Ecip, tidak hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai pertanggungjawaban seorang pejabat tinggi kepada masyarakat.

Mungkin, sebagaimana ditulis TEMPO, Muhammad Jusuf Kalla ini dilahirkan untuk bergelut dengan krisis. Sebab ketika masih berusia 25 tahun, putera Bone ini sudah harus memegang kendali bisnis ayahnya yang sedang menurun. Dan ia berhasil. Tangan dinginnya mampu menyingkirkan berbagai kesulitan dan menyelamatkan bisnis keluarganya. Lalu, pada usia berkepala enam, tangannya masih bertuah mengantarkan perdamaian di Poso dan Ambon.

Dengan merendah, ia mengatakan, upayanya dalam perjanjian Malino adalah bahagian dari tugas sebagai seorang menteri, mengatasi masalah konflik dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ia melihat konflik dan perselisihan akan menyebabkan kemiskinan, baik dalam bentuk materi ataupun nonmateri. Sehingga, kepada mereka yang bertikai, harus diberikan kesadaran untuk menghentikan konflik dengan cara damai bukan melalui perang.

“Karena mereka yang berselisih ini memandang dari sudut agama, jadi kita memberikan kesadaran dari sisi agama juga. Karena semua agama, menurut saya, melarang membunuh tanpa alasan yang jelas,” ujar Ketua IKA-UNHAS (Ikatan Keluarga Alumni Universitas Hasanuddin) ini. Kendati ia yakin bahwa konflik di Maluku bukanlah konflik agama, tapi awalnya dipicu oleh persoalan ekonomi.

Lalu ia berupaya secara ikhlas memberikan pengertian bahwa apa yang mereka lakukan, baik itu kepada orang Islam maupun Kristen, sebenarnya semakin membawa mereka masuk neraka. “Saya katakan demikian dengan nada yang keras bagi kedua kelompok,” kata nahdliyin yang pernah menjabat Ketua Harian Yayasan Islamic Center Al-Markaz ini.

Memang, dalam menangani konflik Poso dan Ambon, ia berani mempersalahkan kedua belah pihak. Ia tidak hanya memuji dan membujuk mereka yang bertikai. Bahkan, “saya marah kepada keduabelah pihak itu,” katanya tulus.

Dia memang seorang tokoh yang cukup berpengaruh terutama di Indonesia Bagian Timur. Ia sangat peduli atas percepatan pembangunan Indonesia, tak terkecuali di kawasan timur itu. Hal itu tercermin dalam bukunya berjudul: “Mari ke Timur!” (Penerbit PT Toko Gunung Agung, Jakarta, 2000). Buku itu berisi pikiran-pikirannya tentang Indonesia Timur. Namun, bukan berarti ia hanya berpikir tentang kawasan Indonesia bagian Timur. Melainkan hal itu menunjukkan kepeduliannya untuk membangun seluruh negeri secara adil dan merata.

Secara politik tokoh berlatarbelakang pengurus masjid, HMI, KAHMI, NU Sulsel dan ICMI ini juga dikenal tidak hanya bisa berkomunikasi dengan teman-teman separtai atau satu agama dengannya. Ia bisa diterima di berbagai golongan dan kelompok kepentingan. Ia bukan politisi sektarian. Ia seorang pluralis berjiwa kebangsaan. Ia seorang pengusaha dan politisi yang negarawan.

Ia memang dikenal sebagai seorang anak bangsa penganut agama Islam yang taat dan berjiwa kebangsaan. Itulah sebabnya ia bisa dengan berani berbicara dengan kelompok-kelompok bertikai di Poso dan Ambon. Ia tidak berpihak kepada salah satu kelompok. Keikhlasan dan kejujurannya membawa damai tidak diragukan oleh masyarakat setempat. Ia orang yang biasa menghargai orang lain, termasuk orang yang berbeda pandangan dan keyakinan dengannya.

Dari kecil ia memang sudah diasuh orang tuanya untuk hidup sesuai ajaran agama Islam yang dianutnya, jujur dan menghargai orang lain. “Prinsip yang ditanamkan oleh orangtua saya sebenarnya sangat sederhana, yaitu menjadi orang yang taat beragama, bekerja sebaik-baiknya (bekerja keras), jujur dan menghormati orang lain. Salah satu dari sikap jujur itu adalah tidak menjadi orang yang melupakan janji atau mencederai janji,” katanya.

Ayahnya, H Kalla, seorang pengusaha dan tokoh Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan. Tidak hanya ayahnya yang pengusaha. Ibunya juga berjualan sarung sutra Bugis. Usaha yang dirintis orang tuanya itu kemudian berkembang di tangan generasi keduanya yang dinakhodai Jusuf Kalla. Lulusan S1 Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967, ini dari sejak usia muda memang sudah sering diikutsertakan dalam usaha dan kegiatan keagamaan, membantu orangtua.

Dalam dunia usaha, ia telah dididik untuk menjadi orang yang ulet, jujur, memperhatikan langganan, mempunyai visi ke depan dalam menjalankan usaha bersama karyawan-karyawan yang lain. Itulah yang mengantarkannya mampu mengendalikan sejumlah perusahaan di antaranya sebagai Direktur Utama NV. Hadji Kalla, PT Bumi Karsa, PT. Bumi Sarana Utama, PT. Kalla Inti Karsa, serta Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International dan PT. Bukaka Teknik Utama sampai tahun 2001, sebelum menjadi menteri. Ayahnya mendirikan NV Hadji Kalla Trading Company tahun 1965. Dan nama itu, kini telah menjadi sebuah jaringan konglomerasi.

NU dan Muhammadiyah
Pada masa kecilnya, Jusuf Kalla dipanggil Ucu, lahir dari pasangan pedagang Bugis dan Nahdliyin yang taat yakni ayah H. Kalla dan ibu Hj. Athirah.
Ucu dibesarkan dalam sebuah keluarga besar yang taat beragama. Dia putra kedua dari 17 bersaudara. Pasangan setianya sampai saat ini adalah perempuan Padang bernama Mufidah, dari keluarga Muhammadyiah yang taat. Pasangan JK-Mufidah dikarunia lima orang anak— Lisa, Ira, Elda, Ihin, dan Chaerani.

Ayah dan ibunya mengedepankan asas agama dan memegang teguh etika berdagang. Ny. Athirah mengasuh anak-anaknya penuh kesabaran. Ayahnya patuh menjalankan perintah agama dan sangat menghargai persahabatan. Di dalam NV Hadji Kalla, Ucu bertindak selaku eksekutif, sedangkan ayahnya menjadi pengawas jalannya perusahaan.

Haji Kalla hanya berada satu jam sehari di kantornya. Usai shalat Dhuhur, sang Ayah mengurusi masjid. Haji Kalla sering jalan kaki berkain sarung ke dan dari kantornya di Pasar Sentral, Makassar. Jarak antara rumah lamanya dan kantor, kurang lebih satu kilo meter. Sedangkan rumah barunya berjarak dua kilo meter.
Di samping rumah lamanya berdiri Masjid Raya yang terbesar di Sulsel saat itu. Belasan tahun Haji Kalla menjadi bendahara masjid tersebut. Setelah ayahnya meninggal, Ucu yang tamatan The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Perancis, tahun 1977, ini meneruskan jabatan tersebut.

Ucu mengenang, setiap selesai shalat Jum’at, teman-teman ayahnya singgah ke rumahnya. Ibunya selalu menyediakan kue khas Bugis, barongko, dan jus es markisa. Barongko adalah pisang gepok yang dihaluskan, dicampur telur, santan dan gula. Lantas dibungkus dengan daun pisang dan dikukus.

Kemudian, Masjid Raya lama dibongkar dan dibangun Masjid Raya baru yang megah atas inisyatif Jusuf Kalla. Kemduian dibangun lagi Masjid Raya Al Markaz Al Islami yang megah dan berkarakter atas insyatif dua Jusuf, yaitu Jenderal (Purn) M. Jusuf yang kemudian bertindak selaku pelindung, dan Jusuf Kalla bertindak sebagai ketua panitia pelaksana pembangunan. Masjid Raya ini antara lain menyiapkan kader-kader ulama dan penghafalan Al Qur’an.

Sedangkan Yayasan Al Markaz yang didirikannya melakukan kegiatan yang lebih umum, seperti sekolah, pusat pengkajian dan diskusi cendekiawan muslim dan kegiatan budaya. Pengurusan sehari-harinya diserahkan kepada kalangan cendekiawan kampus.

Patuh Bayar Zakat
NV Hadji Kalla membeli bangunan dan tanah bekas Markas Komando Daerah Angkatan Udara di jantung kota Makassar, di tepi barat Lapangan Karebosi. Bangunan yang berdiri di tengah kompleks, pada zaman Belanda, dikenal sebagai Hotel Empress.

Semula direncanakan menghidupkan kembali kegiatan perhotelan di kompleks tersebut, bekerja sama dengan Hotel Hyatt. Namun ayahnya lebih setuju mendirikan pusat pendidikan. Lantas dibentuk Yayasan Pendidikan Haji Kalla. Maka dibangunlah kompleks pendidikan Athirah dari TK sampai tingkat lanjutan atas, untuk mengenang ibunya. Pendidikan Athirah bernafaskan Islam.

Sekarang NV Hadji Kalla telah menjadi sebuah jaringan konglomerasi yang bergerak di berbagai bidang usaha, antara lain perdagangan mobil, konstruksi bangunan, jembatan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, perikanan, kelapa sawit dan telekomunikasi.

Perusahaan NV Haji Kalla dikenal patuh membayar zakat. Bagi JK tidak ada istilah tidak membayar zakat, karena hal itu urusan dengan Tuhan. Pada tahun tertentu, karena rugi, bisa saja perusahaannya tidak membayar pajak keuntungan. Tetapi membayar zakat tidak mengenal kata rugi dan untung.

Aktif di Pelbagai Bidang
Sebelum bergelut di bidang usaha, Ucu muda aktif di pelbagai kegiatan kemahasiswaan, terutama setelah menjadi Ketua KAMI Sulawesi Selatan, tahun 1966. Beberapa bekas aktivis mahasiswa mendapat “jatah” jabatan di pemerintahan. Jabatan yang dibagi-bagikan kepada mereka, semisal Badan Pimpinan Harian (BPH) di Pemda Sulsel, beberapa Kakanwil, Kepala Dolog dan anggota DPRD.

Ucu mendapat tawaran sebagai kepala Dolog. Skripsinya memang tentang beras. “Kalau tawaran itu saya ambil, bukan tidak mungkin saya jadi kepala Bulog,” kenang Ucu. Tawaran itu ditolak, namun Ucu terjun menjadi pedagang beras. Dia hanya mau menjadi anggota DPRD. Tapi, beberapa tahun kemudian, Jusuf benar-benar jadi Kepala Bulog, selain menjabat Menteri Perdagangan dan Industri dalam pemerintahan Presiden Gus Dur.

Ucu muda sangat enerjik, dinamis, dan kreatif. Dia aktif di berbagai kegiatan. Selama 24 tahun, dia jadi pengurus inti Kadin Sulsel. Lebih dari separuh waktunya menjabat Ketua Umum dan Koordinator Kadin se Kawasan Timur Indonesia (KTI). Dalam lebih sepuluh tahun terakhir getol memperjuangkan perbaikan ekonomi yang adil untuk KTI dan seluruh Nusantara.

Belakangan pun, JK menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Pusat. JK masih sempat memimpin Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unhas, dan anggota dewan penyantun tiga perguruan tinggi negeri di Makassar; Unhas, lKIP (Universitas Negeri Makassar), dan IAIN, beserta perguruan tinggi swasta.
JK empat kali menjadi anggota MPR Utusan Daerah dari Golkar (sekarang Partai Golkar). Pernah menjadi Ketua Pemuda Sekber Golkar. Sebagai ekonom, dia aktif di Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Pernah menjadi Ketua Umum ISEI Ujung Pandang (979-1989). Dan sampai sekarang menjadi penasehat ISEI Pusat.

Hidup Sederhana
Di dalam menjalankan tugasnya JK menekankan perlunya kejujuran dan loyalitas dari para pembantunya. Dia tak akan mentolerir segala bentuk penyimpangan dan penyelewengan. Karena itu dia memberi contoh hidup bersih dan bersahaja. Itu akan menumbuhkan rasa kesetiakawanan, terutama dari golongan ekonomi lemah.

Sedapat mungkin kurangi kebiasaan konsumtif, atau kurangi kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu. Amatlah naïf, apabila dia sendiri tidak memberi teladan, sementara mengingatkan para pembantunya tidak hidup mewah. Karenanya, ketika ditunjuk menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan dia menolak berkantor di ruang mewah seluas 200 m2 dengan berbagai fasilitas. Lalu dia memilih berkantor di kantor yang lebih sederhana Jalan Gator Subroto yang lebih sederhana dengan perabut yang sudah lama.

Selaku menteri, juga kelak jika ia terpilih sebagai Wakil Presiden, dari segi pendapatan (gaji), sesungguhnya dia nombok. Sama sekali dia tidak mengharapkan kekayaan dari jabatannya. Bahkan saat menjabat menteri, setiap bulan ia meminta perusahaannya menyediakan dana untuk berbagai keperluan yang secara langsung atau tidak langsung menunjang pekerjaannya sebagai pejabat publik. Dia negarawan yang relijius. ►atur-Majalah Tokoh Indonesia Volume 14
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
Nama : 
Drs H Muhammad Jusuf Kalla
Lahir:
Watampone, 15 Mei 1942
Agama : 
Islam
Jabatan Kenegaraan:
Wakil Presiden RI (2004-2009)
Menteri Koordinator Kesejahteraan Sosial Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000)

Isteri:
Ny. Mufidah Jusuf (Lahir di Sibolga, 12 Februari 1943)
Anak:
1. Muchlisa Jusuf,
2. Muswirah Jusuf,
3. Imelda Jusuf,
4. Solichin Jusuf,
5. Chaerani Jusuf.

Pendidikan : 
Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967
The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977)

Pekerjaan 
Agustus 2001 - 2004 : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
1999 - 2000 : Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI
1968 - 2001 : Direktur Utama NV. Hadji Kalla
1969 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Karsa
1988 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama
1988 - 2001 : Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama
1993 - 2001 : Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa
1995 - 2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International

Organisasi 
2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat
1985 - 1998 : Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
1994 - sekarang : Ketua Harian Yayasan Islamic Center AI-Markaz
1992 - sekarang : Ketua IKA-UNHAS
1988 - 2001 : Anggota MPR-RI
2004-2009: Ketua Umum DPP Partai Golkar

Alamat Kantor:
Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat

Alamat Rumah: 
Jl. Brawijaya Raya No. 6 Jakarta Selatan

.... dicopas dari sumber internet

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar